Cerita Pendek #2: Merobohkan dan Menggulingkan
Bibirnya
tertutup rapat, matanya menatap malas, badannya lesu—berjalan saja hampir tak
mau, pikirannya terbagi-bagi, perasaannya kacau balau. Hari ini Sarinah tidak
berangkat ke kampus, tapi hanya menghadap laptop yang menampilkan deretan kata
yang ia susun perlahan untuk menjadi peta pikiran tugas akhir. Dari luar ia
tampak normal dengan kesibukannya saat ini, tapi tidak tau saja jika dia akan
jengkel dengan semua hal yang lewat. Sensitif. Dia sangat sensitif terhadap
semua hal hingga ingin merobohkan dan menggulingkan pemerintah. Kumpulan orang
yang—realitanya—berada di sistem tertinggi negara itu tak henti-hentinya
membuat kewenangan gila yang selalu membuat rakyat makin meradang. Dia benci pemerintah
dan lebih benci dengan pemilihan umum yang harus memaksa rakyat untuk memilih
calon-calon pemimpin terburuk. Tentu, seharusnya ia tak usah mempunyai hak
pilih—ah, atau semua rakyat Indonesia tak usah memiliki saja, toh yang
calon-calon pemimpin itu hanya menginginkan kekuasaan daripada bekerja untuk
rakyat.
Seharusnya tak usah ada pemerintah, karena buat apa? Pekerjaan
mereka tidak ada yang benar, bahkan mereka melucuti segala bidang yang
menyentuh langsung tatanan masyarakat. Sarinah menghela napas, pemerintah gila ini
tidak menginginkan rakyatnya cerdas—khas pemikiran penjajah. Buktinya pemangkasan
anggaran tidak berpihak pada rakyat—bahkan pada putra-putri bangsa mereka tega akan
mengurangi anggaran dana beasiswa dan menaikkan uang kuliah tunggal, belum
dengan anggaran kesehatan untuk seluruh rakyat hanya untuk kata efisiensi—memang
pemerintah tidak waras. Tunjangan kinerja dosen dan tenaga kependidikan yang
tidak kunjung cair bahkan setelah dipotong dengan berbagai hal sembari
menyatakan bahwa PNS adalah beban negara—lihatlah betapa tidak menghargainya mereka
terhadap pendidik, bukankah seharusnya Dewan Perampok Rakyat-lah yang dicerca
begitu. Pendidik mencerdaskan anak-anak bangsa, tapi Dewan Perampok itu, apa
yang mereka lakukan? Bukannya pekerjaannya hanya memonopoli uang?
Beberapa hari yang lalu, setiap Sarinah menyusuri
warung makan untuk mengisi perutnya setelah pusing memikirkan tugas akhir,
penjual di warung makan tersebut selalu mengatakan jika gas elpiji sangat sulit
dicari jadi dia hanya memasak makanan sedikit karena takut gasnya habis.
Sarinah mendengus, akibat pemerintah bodoh ini mahasiswa akhir sepertinya bisa
kelaparan dan penjual makanan serta jajan di jalanan bisa kehilangan mata
pencahariannya. Sudah kelewat gila. Kemudian saat dia membuka sosial media,
kepalanya bertambah pusing karena huru-hara yang disebabkan pemerintah. Belum
lagi kasus pagar laut yang tidak jadi dituntaskan karena takut akan oligarki
dan perlakuan polisi yang berlindung di balik kata: aparat keamanan, tetapi
malah menembaki rakyatnya. Negara kontradiksi yang suka berkomedi setengah
mati.
Sarinah memejamkan mata. Dunia yang mereka tinggali saat ini begitu jahat dan buruk. Cita-citanya menjadi guru yang menyayangi dan disayangi murid-muridnya,
tetapi kini ia ragu apakah dirinya yang kecil ini dapat melindungi anak-anak
dari kejahatan pemerintah dan dunia? Ia sungguh takut tidak bisa melindungi
cita-cita mereka jika sudah dihadapkan dengan persoalan biaya. Dia begitu takut
dan ragu, sampai merasa malu ketika bersitatap dengan binar mata polos milik
mereka. Oh Tuhan … lindungi anak-anak ini, lindungi cita-cita mereka, lindungi
hati murninya …
Komentar
Posting Komentar