Cerita Pendek #1: Saat Itu, Dia Jatuh Cinta
.
Di sudut belahan bumi lainnya, di setiap sudut tempat asal dari kasih yang tercurah pun dengan rasa sayang melimpah, harap-harap setitik selalu tersorot dari pantulan bola-bola mata. Meski tahu, semuanya menuju pada sebuah pungkasan kata ditinggalkan; kehilangan; hilang. Sebagian orang mengatakan jika jatuh cinta merupakan hal yang menyenangkan, sebagiannya lagi menuturkan hal yang kontradiktif sebab takut—lagi—akan kata jatuh di dalamnya. Layaknya berjalan di tepian pantai, bermain pasir lebih terasa aman dibandingkan menantang ombak yang berderap datang. Namun jika seorang laki-laki tanpa permisi datang dan menyentuh sisi sensitifmu, mungkin kau akan kesulitan menghalanginya—lebih buruknya, mungkin kau akan jatuh cinta dengannya.
Shafa, perempuan yang sedang mencoret-coret sisi kosong kertas terlihat sebagai orang yang paling kasihan di mata orang-orang yang tak sengaja melihat ke jajaran calon penumpang bus di halte, tempat menanti bus berikutnya datang. Sudah dua puluh menit berlalu, tapi bus yang dinanti memang tidak dapat diharapkan datang lebih cepat. Jika tidak dalam kurun waktu dua puluh menit, maka tiga puluh menit. Entah mengapa dia bisa menjadi salah satu orang yang sabar menunggu, mungkin sejak memasuki dunia kerja dia memahami bahwa menunggu dengan sabar lebih baik daripada tergesa-gesa. Shafa tersenyum tipis, teringat bahwa terakhir dia menjadi manusia tergesa-gesa dan tidak sabaran dalam sebuah proses. Menjadi perempuan pemberang yang ditakuti teman-teman, berpenampilan rapi, tertib, dan serius sehingga berhasil mendapatkan predikat anak perempuan membosankan di kalangan anak laki-laki, dan menjadi perempuan yang berani didekati oleh seorang anak laki-laki bintang klub basket serta anak osis kesayangan guru matematika. Tiba-tiba teringat akan beberapa kenangan menyenangkan semasa sma membuat Shafa menghentikan kegiatan coret-mencoretnya. Dia mulai menengadah, memperhatikan langit yang berubah mendung sedangkan bus yang ditunggu tak kunjung datang.
“Ma, besok belikan bola basket ya!”
sayup-sayup ia mendengar celetukan lantang seorang anak laki-laki yang duduk
berjarak tiga orang darinya. “Aku pinter main basket kok! Aku kan tinggi,
paling tinggi loh dari yang lain.” entah bagaimana celotehan seorang anak
berhasil membawanya mengingat kenangan enam tahun lalu—dimana namanya masih
bersanding manis dengan nama Anuraga Rengga.
Anuaraga
Rengga ya … sekarang apa kabarnya?
***
Semarang, 7 Oktober 2020
Riuh suara anak-anak kelas sebelas
mendominasi koridor ruang kelas, menenggelamkan suara seorang laki-laki yang
sedang berusaha menyampaikan suatu hal pada si perempuan.
“Hah? Ngomong apa?”
Laki-laki itu menyengir sembari
menggelengkan kepala, “Lo jelek banget hari ini, Shaf.” Tidak heran jika jurnal
harian yang berisi seratus halaman berhasil menghantam lengannya berulang kali.
Komentar
Posting Komentar