Cerita Pendek #1: Melempar dan Menghancurkan
Tubuhnya tinggi, matanya lebar, bibirnya agak tebal
jika tersenyum lesung pipinya mengembang, kulitnya sawo matang—sering diirikan
orang-orang karena terlihat putih saat dibandingkan, kakinya panjang, jarinya
lentik, dan rambutnya selalu membuat wanita kagum saat memandang—tapi tidak
bagi pria. Jilbab longgar yang selalu disengaja menutup bagian dada selalu
bertengger tanpa kaku ataupun ragu. Langkahnya tak jumawa, maka dari itu ia
berjalan seperti para budak yang tunduk pada penguasa. Tatapannya tertuju ke
bawah seolah beragam hal menarik dan memanjakan mata hidup di sana. Suaranya
lembut, selembut kumbang yang diam-diam datang. Geraknya pelan … atau
berhati-hati karena takut bagian tubuhnya rapuh seketika. Jika ia mengaku
porselen, orang-orang mungkin akan percaya.
Namanya Sarinah. Bercita-cita menjadi
pemberani dan cendekiawan. Kelemahannya tidak dapat dan yakin dengan
keputusannya, serta rendah diri seperti kerikil yang mengumpat dibalik pasir
ataupun bebatuan. Kelebihannya dia punya cita-cita dan optimisme untuk terus
hidup. Dia orang yang aneh karena saat batinnya mengatakan apa justru luarannya
berbeda, saat pikirannya menguntai sesuatu yang nyata justru hatinya menilik ke
sembarang arah yang percuma, saat keyakinannya telah sedalam palung mariana
justru mentalnya baru mencapai permukaan laut jawa. Beberapa bulan yang lalu,
ia memutuskan untuk membuat nama pena, entah untuk apa. Merampungkan tulisan
saja tidak mampu. Sudah jelas itu hal yang sia-sia. Ah, apa yang bisa ia
lakukan hanya hal yang sia-sia saja? Kehidupan rancu, kucing pun tidak ingin
masuk ke dalam hidupnya.
Hari ini tidak turun hujan. Dia
memutuskan berjalan sembari melemaskan bahunya yang pegal setelah merebah di
kamar tiga harian. Pikirannya kacau, susunan daftar aktivitasnya berantakan.
Tubuhnya kaku dan pegal-pegal. Tidak ada energi kehidupan yang terpancar, tidak
ada ambisi dan hasrat untuk menggapai apa-apa yang tertinggal. Berantakan. Jika
hidupnya adalah tumpukan kertas-kertas berisi peta konsep penelitian maka semua
akan berhamburan karena ia baru saja membuka jendela dan mengizinkan angin ribut
masuk secara cuma-cuma. Tidak; dia tidak sayang atau kecewa, dia hanya tidak
bisa merasakan apa-apa setelah angin kencang berhasil menghamburkan
kertas-kertas dan kamarnya. Orang lain akan berkata bahwa dia adalah orang bodoh,
begitu bodoh sampai-sampai emosi memuncak saat berhadapan dengannya. Bukannya
tersinggung, dia hanya menarik sudt bibirnya ke atas: membenarkan bahwa dia
adalah orang bodoh. Meskipun dia masih mempunyai secercah harapan agar ada
seseorang—guru misalnya atau orang tua sombong, yang bisa menamparnya agar ia
terbangun dari kungkungan yang ia juga tidak mengerti itu apa—atau ia yang
tidak mau menjustifikasinya.
Sarinah menghela napas, memandang
langit yang sebentar lagi akan tertutup oleh gulungan awan kelabu. Jika ia
harus memiliki satu permintaan: aku ingin
dipertemukan dengan seorang guru yang mengajarkanku bagaimana caraku harus
tetap hidup, Tuhan … aku ingin bisa jujur dengannya jika hidupku seberantakan
ini sekarang ... aku ingin … aku meminta pada-Mu … aku benar-benar ingin …
tolong dengar aku, semoga Kau berkenan. Sebab sungguh, dia kini sedang
berada di jurang keputusasaan yang hanya dapat dilihat oleh dia dan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar