Cerita Pendek #1: Anak Laki-laki di Genangan Air Hujan
Sudah hampir setengah jam
sejak pemakaman selesai, tapi perempuan berwajah kuyu itu belum tampak akan
segera beranjak dari posisinya. Dia berdiri persis di samping tanah kubur yang
masih segar akan siraman air—posisinya tidak berubah sama sekali dari
dimulainya pemakaman sampai selesai. Tatapannya tidak kosong, tapi terlihat
begitu putus asa jika kau berhasil menangkap bola matanya. Seharusnya dia sudah
pingsan karena sejak tadi kakinya bergetar, memberi sinyal bahwa mereka tidak
kuat lagi menopang tubuh lunglainya. Sayangnya dia terlalu keras kepala.
“Ibu,” dia menghela
napas, “Safya janji untuk tetap melanjutkan hidup dan bekerja sampai bisa membeli
seporsi sate ayam lengkap; makanan impian Ibu.”
Gulungan awan tebal berwarna abu-abu telah menutupi seluruh langit biru diikuti dengan suara petir yang mulai menggelegar. Hujan akan turun—ah, tidak, tapi hujan sudah mulai turun. Safya mulai menarik garis sudut bibirnya, sebentar lagi dia bisa menangis dengan bebas bersama derasnya air hujan.
*
Daripada ditinggalkan
sebatang kara, Safya lebih menyesal karena keputusannya yang terdengar percaya
diri untuk tetap melanjutkan hidup. Selama tiga hari beradaptasi dengan
kehidupan sebatang kara, Safya bosan setengah mati karena tidak mempunyai teman
ngobrol. Sebelumnya ada ibu yang akan mendengar cerita Safya dari kucing yang
tiba-tiba menyebrang di jalan sampai Pak Haji yang berlari dengan sarung untuk mengejar
anak-anak nakal pencuri buah mangga. Padahal selama tiga hari, ada banyak
sekali kejadian yang dia lihat sewaktu berangkat pun pulang sekolah.
Safya menatap semut-semut yang berbaris rapi di jendela. Mereka sedang bekerjasama mengambil remahan roti yang sengaja ditinggalkan Safya. Menyenangkan sepertinya menjadi semut, jika salah satu mati dia tidak akan kesepian karena masih banyak temannya. Tidak seperti Safya yang tidak memiliki teman lagi—atau mungkin memang dari awal teman Safya hanya ibu.
Melalui jendela yang
terbuka, angin mulai berembus menemani gulungan awan tebal yang mulai mengambil
alih hamparan langit biru. Hujan akan turun lagi. Pikiran Safya melanglang pada
apa-apa yang harus diselamatkan sebelum hujan turun: cucian baju dan sandal sudah
ia masukkan sejak ia pulang dari sekolah, pintu sudah ia tutup pun dengan
jendela—selain jendela ini, ia juga sudah meletakkan ember di bawah bagian atap
yang sering bocor. Sepertinya semua sudah aman.
Namun entah mengapa,
matanya masih tidak berhenti memindai segala sudut rumah sampai hujan deras
turun. Tidak seperti biasa saat hujan diawali dengan gerimis-gerimis kecil,
hari ini hujan langsung menurunkan jumlah air yang begitu deras.
Sesaat matanya memandang jauh
ke luar jendela sebelum ia memekik terkejut, “Kucing!”
Safya segera menutup
jendela dan turun dari kasur. Dengan langkah tergesa ia mengambil payung yang
tersimpan baik di dekat pintu keluar. Begitu pintu dibuka, bukan main deras
hujannya bahkan pohon-pohon di sana tampak menari dengan riuh karena sahutan angin
yang begitu besar dan kasar. Kini payung yang coba ia buka terlihat sedang
bergelut dengan pergerakkan angin, jika angin dapat berbicara mungkin dia akan
tertawa sekeras-kerasnya karena berhasil main-main dengan apa-apa yang ada di
sini.
Seharusnya orang-orang akan
menyerah dengan derasnya hujan dan kencangnya angin ini; menyerah untuk ke luar
dari rumah. Akan tetapi Safya adalah anak yang keras kepala sejak ia berumur
tiga tahun—kata ibunya, jadi hal seperti ini tidak akan membuatnya menyerah.
Dengan langkah yang
tertatih-tatih, bersama payung birunya dia menuju ke tempat dimana kucing
berwarna putih-kecokelatan itu mendempis ketakutan.
“Eh, Meng … sini!” ucapnya
dengan begitu hangat.
Kucing yang entah dari mana
asalnya itu menggapai rok Safya.
Sebenarnya Safya tidak
terlalu suka dengan kucing, tapi juga tidak membencinya. Safya hanya tidak
terbiasa dengan hewan berbulu itu. Kini dia mulai menggendong kucingnya asal—entah
bagaimana cara orang-orang menggendong kucing dengan benar, ia hanya mengikuti
instingnya saja. Kucing itu begitu tenang digendongan Safya, dia agak terharu
karena ini pertama kalinya ada kucing yang mau berada di dekatnya. Ah, apa
sekarang Tuhan sedang memberinya teman agar dia tidak kesepian? Jika begitu, Safya
sangat bersyukur.
Senyumnya mengembang
lebar. Ini pertama kalinya ia tersenyum lebar setelah tiga hari hidup sebatang
kara. Ia benar-benar ingin menangis saking bahagianya diberi teman—
“Hei!”—sebelum tubuhnya menegang
kaku saat mendengar suara manusia—berjenis kelamin laki-laki agaknya—yang terdengar begitu
dekat di telinga.
Dia melirik samping
kanan-kiri dan menoleh ke belakang, tidak ada siapapun di sini kecuali dirinya
dan si kucing.
“Psst, psst! Kau, anak
perempuan, jangan berdiri di atasku!”
Safya melebarkan matanya.
Ia refleks meloncat.
“S-siapa?! S-siapa di
sana?!”
Tidak ada sahutan. Safya
mengerlingkan mata dan memasang posisi kuda-kuda, bersiap akan segala
kemungkinan buruk yang pernah ia pikirkan sesaat setelah ia pulang dari
pemakaman: bisa saja sewaktu-waktu aka nada perampok atau penjahat dating ke
rumahnya begitu mendengar ada seorang anak perempuan berusia tujuh belas tahun
yang hidup sebatang kara.
“Oi, aku di bawah sini.”
“Di bawah???!” pekiknya sambil
melihat ke tanah yang ia pijak.
“Di genangan air hujan yang
kau pijak tadi.”
Begitu lah, di genangan
air hujan yang sempat dipijaknya tadi adalah poros awal di mana semua
ceritanya terjadi.
Semarang, 28 Januari 2025.
Komentar
Posting Komentar