Cerita Pendek #2: Anak Perempuan yang Berbicara pada Genangan Air Hujan
Begitu
bel berbunyi, hampir semua anak berbondong-bondong beranjak dari tempat duduk
dan ke luar kelas. Sebagian anak yang tidak ke luar, memilih untuk tetap duduk
di tempatnya: mengeluarkan bekal makanan dari rumah atau mengeluarkan ponsel
yang sejak pelajaran ditahan di tas agar tidak mengganggu proses pembelajaran.
Suasana jam istirahat pertama begitu riuh, bahkan di dalam kelas sekalipun,
anak-anak yang berkumpul untuk makan bekal bersama mulai membuka topik obrolan
begitupun dengan anak-anak yang sibuk dengan ponsel genggamnya, mereka yang
paling berisik karena terus bereaksi saat bermain gim.
“RHES!”
seruan lantang seseorang menghentikan aktivitas anak-anak di kelas tersebut.
Saat melihat siapa yang berteriak, mereka kembali tak acuh dan melanjutkan
aktivitas yang terjeda.
“Hadir!”
ucap seorang laki-laki yang tatapannya masih terpaku pada ponsel di tangannya.
Anak
perempuan yang tadi berseru kini masuk ke kelas sambil menghentak-hentakkan
kakinya, terlihat kesal raut wajahnya. “Si Kampret! Di suruh ke ruang osis
malah mabar. Lu nggak serius ya nyalon ketos?!” tangannya langsung mengambil
ponsel Rhes yang layarnya masih menampilkan halaman gim.
“Weh,
bentar! Nanggung, bro!” serunya tidak terima saat ponselnya raib dari tangan.
Lawan
bicaranya melotot, “Berdiri nggak?!” Rhes berdecak sembari beranjak dari
kursinya, “Iya, iya, ampun.”
“Cepet
ke ruang osis!”
Rhes
mendengus sebal, apes banget sumpah dipasangin sama cewek, batinnya dalam hati.
Laki-laki dengan raut wajah masam itu akhirnya ke luar dari kelas diikuti
dengan perempuan berwajah judes yang tadi marah-marah kepadanya. Jujur saja,
dia memang tidak serius mencalonkan diri sebagai ketua osis, apalagi saat tahu
pasangannya siapa, tambah malas dirinya. Tapi orang-orang di sekitar—terutama
seniornya, terus saja memberi dukungan kepada Rhes, sehingga anak laki-laki
dengan ciri khas tahi lalat di ujung matanya ini mau tidak mau
melanjutkannya. Ah, padahal hari kemarin
dia sudah bertekad bulat untuk mengundurkan diri dari pemilihan ketua osis
sebelum penentuan nomor urut. Rhes memang juaranya beromong kosong.
*
Rhes
melenguh. Pandangannya lurus ke depan, menatap pohon. Pikirannya tidak tentu,
kadang memikirkan: di mana dia bisa membeli pistol polisi, mengapa tahu gejrot
tidak lagi ada di menu kantin, apa yang akan dilakukan kepala sekolah jika dia
merobohkan sekolah, kapan dia bisa kabur dari rapat osis yang membosankan,
bagaimana caranya menaklukan dunia ini dan menjadi presiden … oke, cukup.
Pikirannya sangat bermacam-macam untuk anak yang baru berusia tujuh belas
tahun.
“KAK
RHES!” teriakan seseorang mengalihkan pandangan Rhes untuk mencari sumber
suara. Sesaat kemudian, dia tersenyum tipis melihat gerombolan adik kelas yang
tampak heboh.
Ah,
iya. Rhes ingat berkat keatifannya di osis, namanya termasuk ke dalam jajaran
anak-anak populer karena semakin banyak siswa yang mengetahui keberadaannya. Meski
sebelumnya pun dia sudah menjadi buah bibir para siswa sebab keramahan dan sifat
jenakanya yang mulai terendus saat kegiatan pengenalana lingkungan sekolah di
tahun pertama. Kata orang-orang begitu, dan Rhes menerimanya.
Rhes
memandang gamang langit setelah hujan beberapa saat yang lalu berhenti. Masih
berwarna abu-abu; mendung, dingin, mencekam. Rhes tidak suka, tapi juga tidak
membenci suasana hujan baik sebelum, saat, maupun setelahnya. Sebab hujan
selalu membuatnya semakin malas. Beberapa orang akan menunda pertemuan saat
hujan datang, tapi mengapa tidak bisa menunda perpisahan sampai hujan pergi?
Rhes tidak tahu, lebih tepatnya dia tidak mau tahu apa pun pendapat mereka,
karena dia ingin memprcayai pendapatnya saja.
“IH,
nggak jelas!”
Mendengar
seruan yang cukup lantang dari seseorang membuat Rhes mengalihkan pandangan ke
sumber suara. Rhes memicingkan mata. Di depan sana terlihat seorang anak
perempuan berseragam olahraga yang sedang berjongkok sambil menatap genangan
air hujan. Rhes mengernyit sambil memiringkan sedikit kepalanya. Bukan karena
anak itu terlihat aneh karena berjongkok sendirian di samping genangan,
melainkan karena matanya hendak memastikan: apa anak perempuan itu sedang bicara
sendiri pada genangan air?
“Wah,
gila.” Rhes menggeleng-gelengkan kepalanya. Menurutnya berbicara sendiri adalah
hal yang normal, dia tidak akan mengatai seseorang gila hanya karena berbicara
sendiri. Namun anak perempuan itu tidak hanya berbicara sendiri melainkan
terlihat sedang menunjuk-nunjuk genangan air dengan raut wajah tak senang.
Tangan
Rhes menyapu wajahnya. Siapa tahu dia salah lihat!
Namun
mau dilihat beberapa kali pun, pemandangannya masih tetap sama. Anak perempuan
yang sedang terlihat marah-marah terhadap genangan air. Rhes sedikit mengangkat
bibirnya, wajahnya berkerut keheranan. Ada
ya orang kayak dia? Gumamnya dalam hati.
Komentar
Posting Komentar